Welcome

Selasa, 06 November 2012

HUMANISASI PENDIDIKAN SEBAGAI SOLUSI KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN

Diposting oleh Lost Good Thing


Kekerasan dalam pendidikan muncul akibat adanya pelanggaran yang disertai  dengan penghukuman  terutama fisik, akibat buruknya sistem dan kebijakan pendidikan  yang berlaku, dimana muatan kurikulum yang hanya mengandalkan kemampuan aspek  kognitif dan mengabaikan  pendidikan dengan kemampuan afektif, selain itu dipengaruhi  perkembanngan kehidupan masyarakat yang mengalami pergeseran cepat sehingga  menimbulkan sikap instant solution/ jalan pintas dan kekerasan yang dipengaruhi oleh  latar belakang social-ekonomi pelaku. Humanisasi pendidikan dapat dijadikan solusi agar  praktek kekerasan dalam pendidikan dapat berkurang bahkan dapat dihilangkan. Karena  humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar,  cerdas emosional dan cerdas spiritual bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan  tidak mampu menngatasi persoalan yang dihadapi. Model pembelajaran yan g humanistik antara lain: 

(1) humanizing of the classroom; 
(2) active learning; 
(3) quantum teaching;
(4) the accelerated learning.

 Diharapkan dengan adanya humanisasi pendidikan dapat  mengurangi bahkan menghilangkan praktek kekerasan di dalam lembaga pendidikan  penerapan metode pembelajaran yang humanis dan internalisasi nilai-nilai agama, moral dan budaya nasional dalam keseluruhan proses pendidikan.

Humanisasi Pendidikan

Mengingat bahwa pendidikan adalah ilmunormatif, maka fungsi institusi  pendidikan adalah menumbuh kembangkan subyek didik ke tingkat yang normatif lebih  baik, dengan cara/jalan yang baik, serta dalam konteks yang positif. Disebut subyek didik  karena peserta didik bukan  merupakan obyek yang dapat  diperlakukan semaunya  pendidik  bahkan seharusnya dipandang sebagai manusia lengkap dengan harkat  kemanusiannya.

Menurut Freire (Degeng 1999: 16), fitrah manusia sejati, adalah menjadi pelaku  atau subyek, bukan  penderita atau obyek. Panggilan,  manusia sejati adalah menjadi  pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia,  serta realitas yang menindasnya.


Dunia dan realitasnya bukan sesuatu yang ada, dengan sendirinya dan karena itu harus  diterima menurut apa,adanya  sebagai  suatu takdir atau nasib yang tak terelakkan.  Manusia harus menggeluti dunia dan realitas dengan penuh sikap kritis dan daya cipta,  dan itu berarti manusia  mampu memahami keberadaan dirinya. Oleh karena itu  pendidikan harus berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri,  dan harus mampu mendekatkan manusia dengan lingkungannya. Adanya  beberapa  bentuk kekerasan dalam  pendidikan yang masih merajalela  merupakan indikator bahwa proses atau  aktivitas pendidikan kita masih jauh dari nilainilai kemanusiaan. Di sinilah  urgensi humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan  merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan  cerdas spiritual,  bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu  mengatasi persoalan yang diahadapi.


Kekerasan Dalam Pendidikan

Kekerasan dalam pendidikan muncul akibat adanya pelanggaran yang disertai  dengan penghukuman  terutama fisik, akibat buruknya system dan kebijakan pendidikan  yang berlaku, dimana muatan kurikulum yang hanya mengandalkan kemampuan aspek  kognitif dan mengabaikan  pendidikan dengan kemampuan afektif, selain itu dipengaruhi  perkembanngan kehidupan masyarakat yang mengalami pergeseran cepat sehingga  menimbulkan sikap instant solution/ jalan pintas dan kekerasan yang dipengaruhi oleh  latar belakang social-ekonomi pelaku. (Nurul Zuriah, 2006: 31). Selain itu penyebab  kekerasan dalam pendidikan dapat dilihat dari kondisi pendidikan saat ini, yaitu kondisi  internal dan eksternal. Kondisi internal merupakan factor yang berpengaruh langsung  bagi perilaku para pelajar atau mahasiswa dan tenaga pendidiknya. Pada kondisi internal  sejauh  ini dijumpai kesenjangan  (discrepancy,gap) yang cukup dalam antara upaya  pemerintah dalam memajukan pendidikan (idealisas) dengan kondisi riil yang dialami dilapangan (realitas). Sedangkan kondisi eksternal adalah kondisi non pendidikan yang  merupakan factor tidak langsung menimbulkan potensi kekerasan dalam pendidikan.  Kondisi ini tampak dalam kehidupan social dan budaya masyarakat dimana pelaku  pendidikan berada didalamnya. (Suprijanto 2009: 22)  Misalnya masalah pengguna  narkoba semakin menimgkat dilakukan oleh para pelajar bahkan pornografi dan  pergaulan bebas. Semua itu menjadi masalah krusial dalam pendidikan karena kekerasan dalam pendidikan bias dipengaruhi secara tidak langsung oleh kondisi eksternal tersebut.

Tipologi kekerasan dalam pendidikan (TIM ICCE UIN 2008: 44), dapat  dibedakan menjadi 4 antara lain:

1. kekerasan terbuka yakni kekerasan yang dapat dilihat/ diamati secara  langsung. Misalnya guru mencubit atau menjewer siswanya yang tidak  mengerjakan tugas, perkelahian antar siswa.

2. kekerasan tertutup yakni kekerasan tersembunyi/ tidak dilihat secara langsung.  Misalnya mengancam/intimidasi contohnya kasus demonstran mahasiswa.

3. kekerasan agresif yakni kekerasan yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, seperti merampas, pemerkosaan atau pencabulan yang sering  dilakukan oleh pengajar kepada siswa SD dan SMP

4. kekerasan defentif yakni kekerasan yang dilakukan sebagai tindakan  perlindungan.



Humanisasi Pendidikan Sebagai Solusi Kekerasan Dalam Lembaga Pendidikan

Beberapa bentuk kekerasan dalam pendidikan yang masih meraja lela  merupakan indikator bahwa proses atau aktivitas pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu humanisasi pendidikan dapat dijadikan solusi agar  praktek kekerasan dalam pendidikan dapat berkurang bahkan dapat dihilangkan. Karena  humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar,
cerdas emosional dan cerdas spiritual bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan  tidak mampu menngatasi persoalan yang dihadapi.


Diharapkan dengan adanya humanisasi pendidikan dapat mengurangi bahkan  menghilangkan praktek kekerasan di dalam lembaga pendidikan di Indonesia. Agar  pendidikan berjalan tanpa kekerasan tersebut maka perlu dipertimbangkan pendidikan  nilai yang efektif, penerapan metode pembelajaran yang humanis dan internalisasi nilainilai agama, moral dan budaya nasional dalam keseluruhan proses pendidikan. Untuk itu
pemahaman yang cukup untuk pendidikan yang humanis perlu diketahui oleh semua  pihak yang terlibat dalam pendidikan sebagai solusi kekerasan dalam pendidikan  tersebut.



Diharapkan dengan adanya humanisasi pendidikan dapat mengurangi bahkan  menghilangkan praktek kekerasan di dalam lembaga pendidikan di Indonesia. Agar  pendidikan berjalan tanpa kekerasan tersebut maka perlu dipertimbangkan pendidikan  nilai yang efektif, penerapan metode pembelajaran yang humanis dan internalisasi nilainilai agama, moral dan budaya nasional dalam keseluruhan proses pendidikan. Untuk itu
pemahaman yang cukup untuk pendidikan yang humanis perlu diketahui oleh semua  pihak yang terlibat dalam pendidikan sebagai solusi kekerasan dalam pendidikan tersebut.








0 komentar:

Posting Komentar